.::Salam Hangat Satu Jiwa Untuk Semua::.

Senin, 17 Februari 2014

Malam ini ku merindu, Kasih

Saat ini aku sedang duduk setingkat lebih rendah di bawah mu, berharap kamu tau kalah aku sedang butuh dukungan dari mu. Sayangku engkau akan menjadi terbaik bagiku tapi tak tau bagaimana dengan mu. Merindu mu jalan ku merenungi ada mu. Saat ini mungkin aku sedang menjadi bayang semu mu, tak nyata bagimu, dunia maya yang mungkin tidak bisa engkau sentuh.

Prosa lama sering ku cari di google, berharap malam ini aku tidak ndagel, kadang yang terasa hanya pegel dan sebel. Memang lama sekali tak menyapamu dengan ucapan "selamat pagi cinta" karena untuk saat ini aku memang lagi berada di titik paling bawah kasih. Kapan hari aku akan bercerita tetang semuanya pada mu kasih.

Kalimat yang tak berujung akan menggambarkan ikatan cinta yang mungkin tak terbendung. Dan bukan berarti tidak ada awan mendung, kalimat yang menyanjung, jadi simbol kalau hati kita saling terhubung. Dan ku akui sering kali kira tidak nyambung. Engkau sering berbicara tentang penyakit di jantung, dan aku hanya anak kampung.

Aku kangen dengan cahaya yang pernah ku kenal dulu, membuat semuanya serba biru, seperti malam yang menunggu ufuk fajar baru. Dongeng raja dan ratu seringkali menjadi penghantar tidurmu. Saat ini aku sedang merindukan mu cahaya ku. I love you.

Selasa, 11 Februari 2014

Tergulung Ombak Masa Lalu

Bu, Pak malam itu tiba-tiba aku ingin pulang. Ingin melihat keadaan gubuk kita yang telah lama ku tinggal rantau, apakah masih sama seperti yang dulu, kumuh, jelek, kurang terawat, tapi masih bisa menghadirkan rasa nyaman bagi penghuninya. Syair jawa yang dilantun pak Emha Ainun Najib ini sering membuatku kangen dengan babt tanah jawa. Khususnya pada kalian.

Bu, Pak setiap aku melihat anak kecil yang didampingi orang tuanya untuk bermain, sering kali membuatku iri pada masa kecilku dulu. Masih teringat dengan jelas, malam itu aku ingin sekali di belikan ikat pinggang. Tepat di alun-alun Sidoarjo kita berjalan bersama sekeluarga, dengan nada merengek aku memintanya pak. lalu kau menawarkan untuk kami. Dan seingat ku pak, engkau menjawab "sekyo mlaku-mlaku sek ae nang ngarep ijeh akeh". tetep saja aku merengek untuk engkau belikan ikat pinggang itu. 

Bu, Pak kapan hari aku naik bus di untuk menuju tempat ku latihan bareng. Aku melihat anak kecil dengan asyik memainkan dolanannya, ada yang duduk di pangkuan ibunya. Kala itu juga aku mengingat bu pak kita pernah naik angkot menuju rumah mbah. Lagi-lagi yang ku ingat angkot itu penuh dengan orang dan aku duduk di pangkuan kalian.

Bu, Pak yang ku kangenkan bukan hanya itu, sesaat sebelum aku tidur, mbah seringkali "me-ngusuk (mengusap-usap dengan rasa sayang)" di punggung. meskipun aku ndak tau maksudnya. Mungkin dengan harapan kelak aku bisa menjadi orang yang bisa me-ngusuk semua golongan. Mbah gmana kabar sampean disana mudah-mudahan selalu dalam lindung dan rahmat-Nya (lahum Al-Fatikhah).

Bu, Pak aku pengen pulang, kalau saja waktu bisa di ulang. Aku pengen ngaji lagi di langgar bareng embah, naik angkot lagi bareng ibu, bapak, main lagi di pasar tempat embah berjualan. Bu, Pak sekarang aku tau alasan kenapa kalian tidak tidak menuruti ku, sewaktu kecil. 

Astaghfirullah Rabb-alBarayaa
Astaghfirullah min-alkhataayaa

Jumat, 07 Februari 2014

Cerita malam ini

Malam ini kenapa semuanya serba asyik, serba manis. Nikmat mana yang mesti aku dustakan lagi Ya Robb? semunya mengalir, seakan Engkau memang sudah mengaturnya untuk diriku. Kegelisahan yang pernah aku rasakan mungkin kini akan menjadi saksi bahwa kita dulu pernah berada dalam satu kondisi yang sama. 

Kondisi dimana kami, pernah sama-sama merasakan yang namanya LDR, jauh dari orang tua, tidak punya uang, tertawa dan nggembel bareng. Kalau aku saja aku mendongeng mungkin malam ini tidak akan habis untuk di ceritakan. Syukurku akan ku panjatkan untuk-Mu yang telah memberikan ku banyak kenangan bersama mereka. 

Saling menghargai, berselisih, bahkan berantem karena beberapa hal sepeleh. Andai Engkau masih memberikan waktu untuk ku kelak bertemu mereka lagi. aku ingin bernostalgia dengan mereka yang ada untuk ku disini. Slengekan, ngopi bareng, mentertawakan kehidupan, berkhayal tetang masa depan, saling menembakkan kentut. heuheu... itu yang kurasakan indah.

Aku harap mu'amlat seperti inilah yang akan aku ceritakan kepada anak cucuku kelak. Semoga ini adalah pilihan yang terbaik buat kalian, Aku tunggu ceritamu beberapa tahun yang akan datang. dan dan tunggu ceritaku dari negeri senja ini. Sampaikan salam rinduku buat Indonesia-ku
.

"Cintaku jauh di pulau" oleh Chairil Anwar

Chairil Anwar pujangga kelahiran medan, 26 juli 1922. Tidak berhenti membuatku terhipnotis dengan karyanya, dalam susanan kata dan makna seakan berbicara dengan bahasa kalbu. Tidak banyak karyanya yang aku ketahui, tapi berapa karya yang mungkin saat ini senasib dan mewakili perasaanku. Untuk mu yang jauh dari pandanganku. Kiranya puisi dari pujangga ini mewakili bahasa kalbu ku. 

Tahun: 1946 oleh Chairil Anwar dengan judul: "Cintaku jauh di pulau"

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.